SISTEM DIGITAL
NOVRI ARDANA BAIHAKI
22041016
R14B
BAB I
SISTEM DIGITAL
Pengertian sistem digital adalah suatu sistem yang terdiri dari komponen komponen elektronika dan gerbang-gerbang logika yang diproses secara biner oleh bilangan biner yaitu bilangan 0 (nol) dan bilangan 1 (satu), serta bilangan bilangan 0 dan 1 tersebut merupakan dasar pembentukan angka-angka digital mulai dari 0 sampai dengan 9.
Inilah hal hal yang paling utama dalam sistem digital.
Perkembangan teknologi berjalan begitu cepat, terbukti dengan terciptanya komponen komponen yang berbasis nano teknologi. Pada jaman dahulu komponen komponen utama peralatan listrik terbuat dari lampu tabung, kemudian berkembang menjadi komponen transistor, selanjutnya berkembang lagi menjadi komponen transistor transistor logic, kemudian berkembang menjadi komponen komponen digital berupa gerbang gerbang logika dan nano teknologi.
Contoh alat yang menggunakan sistem digital adalah jam tangan digital, timbangan digital, papan reklame digital, alat ukur digital, timbangan bayi digital, TV digital, radio digital dan lain sebagainya.
Kita mengenal istilah analog dan istilah digital. Analog menunjukkan suatu peralatan yang bekerja dengan prinsip Galvanometer, dimana arus yang mengalir pada suatu kumparan medan magnet dapat menggerakan jarum pada angka tertentu. Sedangkan digital menunjukkan pada suatu peralatan yang berkerja pada prinsip gerbang gerbang logika dengan keluaran berupa angka angka digital.
tersebut dapat berupa komponen sebagai berikut: sumber tegangan, titik sasis atau grounding, dioda, transistor, dan Light Emiting Diode .
Komponen pertama adalah suatu sumber tegangan dalam suatu rangkaian digital. Apabila suatu rangkaian digital yang terdiri dari beberapa komponen, diantaranya terdapat sumber tegangan, dan jika sumber tegangan tersebut bernilai antara 0 - 0,8 Volt, maka nilai tersebut menyatakan nilai logika 0, atau dengan kata lain representasi sumber tegangan tersebut bernilai 0 .
Perhatikan Rangkaian digital dibawah ini.
Pada Gambar rangkaian digital di atas, jika kita perhatikan, dan kita pelajari jalannya arus dari sebuah sumber tegangan searah Direct Current , maka akan bekerja jika rangkaian terpasang dengan benar dan memiliki sumber tegangan sebesar 9 Volt. Bagaimana jika sumber tegangan bernilai antara 0 0,8 Volt? apa yang terjadi pada rangkaian digital tersebut? Tentunya nilai tegangan tersebut merupakan reprentasi nilai logika 0 . Titik ground titik yang terpasang dengan ground, dengan simbol adalah sebuah titik yang tidak mempunyai nilai tegangan, yaitu nilai potensial paling rendah dan bernilai 0 . Dengan demikian sebuah grounding merupakan representasi nilai logika 0.
Komponen ketiga, adalah dioda. Dioda yang terdapat pada rangkaian digital di atas dipasang reverse bias, artinya dioda tersebut tidak menghantarkan arus. Jika sebuah dioda dalam suatu rangkaian tidak berfungsi mengalirkan arus listrik, atau terpasang secara reverse bias, maka komponen dioda dalam rangkaian tersebut merupakan representasi nilai logika 0.
Komponen keempat yaitu daerah cut off transistor. Pada rangkaian diatas terdapat transistor . Jika transistor dalam keadaan cut off maka trasistor sama dengan saklar yang terbuka, dan merupakan representasi transistor nilai logika 0.
Komponen kelima yaitu saklar. Saklar pada rangkaian di atas dalam keadaan terbuka tidak dapat menghantarkan arus listrik, sehingga bisa dikatakan saklar dalam rangkaian tersebut representasi nilai logika 0.
Komponen terakhir adalah Light Emiting Diode . Pada rangkaian diatas terdapat LED yang terpasang dengan benar. Jika sumber tegangan bernilai logika 1 maka lampu LED akan menyala, namun apabila lampu LED tersebut dalam keadaan tidak menyala, maka dikatakan bahwa dioda tersebut representasi nilai logika 0.
Dengan mempelajari representasi nilai logika O diatas, tentunya kita dapat menentukan komponen komponen dalam rangkaian representasi nilai logika 1. Representasi nilai logika 1 adalah sebagai berikut: Tegangan listrik 2-5 Volt, Titik potensial catu daya , Dioda dengan forward bias, Transistor dalam keadaan jenuh Sistem digital dapat memperkecil derau Beberapa komponen digital dapat dikemas menjadi sebuah integ rated Circuit .
BAB 2
GERBANG LOGIKA
Gerbang logika atau gerbang logik adalah suatu entitas dalam elektronika dan matematika Boolean yang mengubah satu atau beberapa masukan logik menjadi sebuah sinyal keluaran logik. Gerbang logika terutama diimplementasikan secara elektronis menggunakan diode atau transistor, akan tetapi dapat pula dibangun menggunakan susunan komponen-komponen yang memanfaatkan sifat-sifat elektromagnetik .
Gerbang Logika atau dalam bahasa Inggris disebut juga dengan Logic Gate adalah dasar pembentuk Sistem Elektronika Digital yang berfungsi untuk mengubah satu atau beberapa (masukan) menjadi sebuah sinyal (Keluaran) Logis. Gerbang Logika beroperasi berdasarkan sistem bilangan biner yaitu bilangan yang hanya memiliki 2 kode simbol yakni 0 dan 1 dengan menggunakan Teori Aljabar Boolean.
Gerbang Logika yang diterapkan dalam Sistem Elektronika Digital pada dasarnya menggunakan Komponen-komponen Elektronika seperti Integrated Circuit (IC), Dioda, Transistor, Relay, Optik maupun Elemen Mekanikal.
Terdapat 7 jenis Gerbang Logika Dasar yang membentuk sebuah Sistem Elektronika Digital, yaitu :
1. Gerbang AND
2. Gerbang OR
3. Gerbang NOT
4. Gerbang NAND
5. Gerbang NOR
6. Gerbang X-OR (Exclusive OR)
7. Gerbang X-NOR (Exlusive NOR)
Tabel yang berisikan kombinasi-kombinasi Variabel Masukan (Masukan) yang menghasilkan Keluaran (Keluaran) Logis disebut dengan “Tabel Kebenaran” atau “Truth Table”. Masukan dan Keluaran pada Gerbang Logika hanya memiliki 2 level. Kedua Level tersebut pada umumnya dapat dilambangkan dengan :
Ø HIGH (tinggi) dan LOW (rendah)
Ø TRUE (benar) dan FALSE (salah)
Ø ON (Hidup) dan OFF (Mati)
Ø 1 dan 0
BAB 3
SISTEM BILANGAN DIGITAL
DAN KONVERSI BILANG
Sistem bilangan merupakan dasar semua bilangan dan merupakan dasar sebagai pembuat bahasa pemograman tingkat-tingkat rendah, yang biasa kita kenal dengan bahasa mesin atau bahasa assembler. Kita mengenal empat jenis bilangan utama, yaitu bilangan Biner, bilangan Desimal, bilangan Oktal dan bilangan Hexa Desimal.
· BINER
Sistem bilangan biner terdiri dari dua yaitu angka 0 dan 1. Angka 0 dan 1 atau biner tersebut merupakan dasar untuk semua bilangan. Dengan adanya biner bisa membuat bilangan digital dari 0 sampai dengan 9. Bilangan biner kita kenal dengan nama bilangan berbasis 2. Contoh Bilangan biner adalah 1100112, 010102 dan seterusnya.
· OKTAL
Sistem bilangan oktal terdiri dari delapan angka yaitu angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Bilangan oktal tidak memiliki angka 8. Bilangan Oktal tersebut merupakan bilangan yang lebih lengkap dibanding bilangan biner. Dengan adanya bilangan oktal lebih memudahkan lagi dalam mengkonversi suatu nilai bilangan. Bilangan oktal kita kenal dengan nama bilangan berbasis 8. Contoh Bilangan biner adalah 12345678, 772198, 2013768 dan seterusnya.
· DESIMAL
Bilangan desimal adalah bilangan yang biasa kita gunakan sehari hari. Bilangan desimal memiliki angka sebagai berikut 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Bilangan Desimal merupakan bilangan yang paling mudah digunakan, karena tidak berbasis. Namun bilangan desimal dapat mempermudah konversi bilangan.
· HEXADESIMAL
Bilangan hexadesimal adalah bilangan yang terdiri dari 16 simbol bilangan yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,dan F.
BAB 4
MULTIPLEXER
A. PENGERTIAN MULTIPLEXER
Multiplexer (MUX) adalah suatu rangkaian digital yang terdiri dari beberapa masukan signal digital dan diproses oleh komponen prosessing (selektor) untuk menghasilkan satu keluaran. Rangkaian multiplexer terdiri dari komponen-komponen digital pada bagian input, seperti gerbang NOT, gerbang AND, dan gerbang OR. Multiplexer umumnya diimplementasikan sebagai rangkaian terintegrasi (Integrated Circuit) atau modul yang dikenal sebagai IC multiplexer. Secara analogi, multiplexer dapat dianggap sebagai kumpulan saklar, di mana banyak saklar di bagian input yang dapat dipilih (seleksi) satu-satunya saklar di bagian output. Pemilihan dilakukan oleh sebuah selektor yang menghasilkan keluaran sesuai dengan aljabar Boolean. Bentuk analogi multiplexer dengan saklar mirip dengan saklar putar untuk bagian input dan saklar tunggal (SPST) untuk bagian output. Selektor berperan penting dalam menghasilkan aljabar Boolean.
Proses yang dilakukan oleh multiplexer disebut dengan multiplexing. multiplexer adalah jumlah signal masukan lebih dari satu dan signal keluaran menjadi satu signal. Saluran yang masuk pada multiplekses dapat pula berupa transmisi data.
Analogi multiplekser dapat digambarkan dalam bentuk rangkaian digital. Rangkaian digital multiplekser terdiri dari gerbang NOT, AND, dan OR, yang bekerja bersama untuk memproses sinyal masukan dan menghasilkan sinyal keluaran.
B. FUNGSI MULTIPLEKSER
Multiplexer merupakan penghubung atau interface dari beberapa masukan menjadi satu keluaran. Masukan multiplexer yang paling cocok adalah signal digital, karena komponen utamanya merupakan gerbang gerbang digital.
Manfaat multiplexer meningkatkan efisiensi penggunaan data. Proses multiplexer atau Multiplexing sangat banyak ragamnya, diantaranya adalah : Frequency Division Multiplexing (FDM), Time Division Multiplexing (TDM), Code Division Multiplexing (CDM).
C. TABEL KEBENARAN MULTIPLEKSER
Sebuah multiplekser dengan istilah 4X1 multiplexer, artinya terdapat 4 signal data masukan dan terdapat 1 signal data keluaran.
D. ALJABAR BOOLEAN MULTIPLEKSERBAB 5
DEMULTIPLEXER





Komentar
Posting Komentar